Sunday, July 20, 2008

Wise lessons from Lao Tzu

Sunday, July 20, 2008 0
Suatu hari guru Lao Tzu, Chang Cong yang sakit keras mendekati akhir hidupnya , Lao Tzu mengunjunginya.
"Guru, apakah guru mempunyai kata bijak terakhir untukku ?" tanya Lao Tzu kepadanya
"Sekalipun kamu tidak bertanya , aku pasti akan mengatakan sesuatu kepadamu "ujar Chang Cong
"Apakah itu ?"
"Kamu harus turun dari keretamu bila kamu melewati kota kelahiranmu"
"Ya, Guru. Ini berarti orang tidak boleh melupakan asal usulnya"
"Bila kamu melihat pohon yang tinggi , kamu harus maju dan mengaguminya "
"Ya, Guru. Ini berarti saya harus menghormati yang lebih tua"
"Sekarang lihat dan katakan apakah kamu dapat melihat lidahku ?"
"Ya."
"Apakah kamu melihat gigiku ?"
"Tidak, tidak ada gigi yang tersisa. "
"Kamu tahu kenapa?" tanya tanya Chang Cong
"Aku rasa, lidah tetap ada karena lunak . Gigi rontok karena mereka keras, benar tidak ?"
"Ya anakku " Jawab Chang Cong
"Itulah kebijaksanaan di dunia , aku tidak punya apa-apa lagi untuk diajarkan kepadamu "

Di kemudian hari, Lao Tzu berkata :
"Tidak ada sesuatupun di dunia yang selunak air , Namun tidak ada yang menggungulinya dalam mengalahkan yang keras . Yang lunak mengalahkan yang keras dan lembut mengalahkan yang kuat. Setiap orang tahu itu, tapi sedikit saja yang mempraktikannya"
(Source : Kisah-kisah kebijaksanaan China Klasik , Michael C. Tang)

Benar sekali apa yang diungkapkan oleh Lao Tzu, dapat kita lihat kenyataanya dalam perjuangan Gandhi. Bersikap keras terhadap hal yang keras tidak menyelesaikan soal namun bersikap lembut, adalah hal yang terbaik. Pelajaran ini sangat penting bagi kita ketika memasuki masyarakat, dimana jika kita bisa mengendalikan emosi kita dalam menghadapi lawan bicara yang keras. Secara perlahan-lahan , lawan bicara anda akan mulai melembut juga dalam menanggapi apa yang anda bicarakan. Terutama yang sering terjadi adalah hubungan antara atasan dan bawahan, beberapa atasan merupakan orang-orang dengan karakteristik yang keras dan cenderung mau menang sendiri, mengacuhkan pendapat anda sebagai seorang atasan. Namun kebanyakan bawahan hanya menanggapi dengan 2 cara saja.
Pertama, mengikuti aturan main si boss walaupun keputusan dari si boss tidak sreg di hati
Kedua, menentang si atasan karena idealisme kita dalam debat yang berapi-api yang berujung pada dipecat

Bagaimana kalau kita mengambil sedikit pelajaran kebijaksanaan dari Lao Tzu dan menerapkannya dengan mengkomunikasikan secara halus, perlahan dan tidak secara frontal menyinggung atasan, dibarengi dengan kata-kata manis yang dapat membuat si atasan membumbung tinggi. Tentunya si atasan lama kelamaan akan berubah menjadi lebih lunak dan mau mendengarkan pendapat kita.

Saturday, July 19, 2008

E-Mail dan hal yang tak terduga

Saturday, July 19, 2008 0
Suatu kali saya membaca tentang topik "E-mail dan Manusia Super" dari Kompas cetak. Hal ini mengingatkan pengalaman yang saya alami dengan e-mail.
Berbicara tentang pentingnya email memang terkadang seperti pisau bermata dua. Di satu sisi, mungkin bagi perusahaan dengan pekerja yang sudah terjamah oleh teknologi informasi dan tidak bisa melepaskan diri dari kepentingan urusan surat-menyurat online. Seringkali e-mail itu urgensinya tidak tinggi namun kita sudah terbiasa untuk menjawab email tersebut. Sehingga dalam kompas dipaparkan bahwa hal ini menjadi dillema. Apakah mengecek dan membalas email setiap hari itu adalah bermanfaat atau tidak ? jika email dipergunakan secara benar maka manfaat yang kita dapat bisa sangat besar, kita dapat mengirimkan informasi, surat ataupun sekedar artikel kepada orang lain di belahan dunia lain dalam waktu sigkat dan sekejap. Namun buruknya, email seringkali menjadi bagian dari pergaulan kita secara online dan kadang-kadang dapat mengurangi profesionalitas kita dalam bekerja karena menghentikan aktivitas sebentar untuk mengecek email, yang mungkin dari rekanan ataupun kerabat kita. Persoalan akan hal ini mungkin dihindari dengan membagi email untuk urusan profesional dan pribadi namun, manusia kebanyakan cenderung pragmatis dan menggunakan sekadar 1 jenis email saja agar tidak perlu mengingat-ingat email yang lainnya, belum lagi gempuran spamming email yang dilakukan spammer yang cukup "menggangu" kenyamana kita ber-email ria. Beberapa menggunakan outlook ataupun thunderbird dalam mengorganisir email, tapi hal ini terkadang bisa dianggap "repot" karena harus me-launch software lagi. Bagi pengguna awam yang cenderung membutuhkan kemudahan, membuka email dari browser saja sudah cukup.

Di sisi lain, e-mail terkadang memberikan informasi yang sepele sekali namun berguna. Bisa saja cerita yang menghibur hati, memotivasi dan sekadar pemberitahuan akan peringatan tentang hal-hal buruk yang menimpa seseorang dan dia menyebarkannya lewat email agar orang-orang lain tidak mengulangi kesalahan yang sama, ataupun informasi seminar yang mungkin saja membuat kita tertarik untuk mengikutinya, menambah wawasan kita.

Saya pernah mendapatkan e-mail yang berisi motivasi dari seorang teman di kala senggang dan iseng mengecek email saya . Walaupun hanya forward saja, dan yang menjadi point penting dari ini adalah hal ini mengubah seluruh pandangan hidup saya. Di kala sedang merasa bahwa hidup saya berantakan, dengan nilai akademis yang payah karena tidak bersunguh-sunguh dalam kuliah. Saya mulai bangkit dan ingin sekali mengulang sejarah dalam hidup saya. Sebagai seorang achiever, saya mengejar nilai yang kelihatannya sudah "no hope" lagi. Saya tidak berputus asa karena hal ini. Bayangkan, hanya karena hal kecil yang mungkin tidak terpikirkan oleh kita dapat saja begitu powerfull mengubah pemikiran kita.
dan kutipan terakhir dari email tersebut adalah :
"You've got to find what you love"
berbekal ini saya mencari apakah yang saya sukai, dan saya memfokuskan diri pada hal tersebut. Berharap bahwa suatu hari hal ini akan menjadi kompetensi tambahan bagi saya ketika memasuki dunia nyata, sebagai praktisi dan bukan sebagai seorang pelajar lagi.

Friday, July 18, 2008

Lessons from Mr Reza Indragiri Amriel

Friday, July 18, 2008 0
Pada hari rabu, 16 juli 2008 saya mengikuti seminar dari BinusCareer yang bertajuk "The Art of Personality test" dengan menghadirkan salah satu pembicara yang saya anggap sangat unik dan benar-benar live, yaitu pak Reza Amriel. Beliau adalah dosen fakultas psikologi di BINUS UNIVERSITY. Acara yang diadakan oleh BinusCareer ini sebenarnya ditargetkan untuk memberikan wawasan kepada para mahasiswa Binus yang mungkin akan membantu mereka dalam dunia kerja usai lulus dari universitas. Beberapa hal seperti trik2 menjawab pertanyaan dalam wawancara kerja sangat menarik minat peserta , terutama pada 3 hal ini
  • Berapakah salary yang anda harapkan ?
  • Apakah Kelemahan anda ?
  • Kenapa memilih perusahaan kami ?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang sensitif untuk dijawab dalam sesi interview kerja. Menjadi tidak relevan untuk menyebutkan nilai gaji yang terlalu tinggi ataupun terlalu rendah dengan pertimbangan seorang freshgraduate ataupun ditakutkan akan menyinggung perasaan dari si pewawancara. Berbeda apabila sudah dibekali banyak pengalaman dan merasa cukup qualified untuk posisi yang dilamar dan nilai yang pantas bagi perusahaan maka menyebut gaji adalah lumrah dan sudah sepantasnya. Sedangkan pada kelemahan yang ditanyakan, hal ini merupakan hal yang terkadang menjatuhkan kita dalam wawancara kerja, karena menyangkut penilaian sendiri tentang kelemahan pada diri sendiri. Untuk berkata jujur secara langsung akan sangat polos dan malah membuat si pewawancara mempunyai pandangan negatif terhadap kita, namun apabila mencoba berbohong , menjadi dilema bagi kita karena biasanya pewawancara sudah terbiasa untuk menilai orang yang jujur ataupun sedang berbohong dan berpotensi membuat kita tidak lolos dari saringan jika seandainya kita memilih untuk berbohong. Alasan untuk memilih perusahaan tersebut juga menjadi concern utama dari si pewawancara untuk ingin tahu lebih banyak tentang minat kita terhadap perusahaan, maka disini sangat penting bagi kita untuk menunjukan seberapa jauh pengetahuan kita akan perusahaan tersebut. Biasanya pembawa acara seminar semacam ini akan memberikan jawaban-jawaban yang saya nilai konvensional , namun yang diajarkan oleh pak reza adalah bagaimana untuk menjawab dengan humble dan cerdik setiap pertanyaan-pertanyaan tersebut sehingga saya acara seminar ini sangat membuka wawasan saya tentang wawancara dunia kerja. Misalnya dalam menyebut nilai salary yang diinginkan , poin utamanya adalah menghindari penyebutan secara langsung ataupun setelah penyebutan ditambahkan embel-embel "negotiable". Sedangkan untuk kelemahan, hal ini sangat menarik karena pak Reza mengajarkan untuk mengubah apa kelemahan kita menjadi kekuatan kita dengan memberikan jawaban yang tegas namun sopan dengan menunjuk kelemahan kita sebagai kekuatan yang dapat berguna bagi perusahaan seraya menanamkan persepsi tersebut dalam benak si pewawancara. Untuk pertanyaan kenapa memilih perusahaan tersebut, pak Reza mengajarkan sikap keingintahuan kita ke dalam proses wawancara sebagai wujud keakraban ataupun bilamana kita sudah mengenal baik perusahaan tersebut, jangan terlalu tinggi hati karena dapat saja kita salah tentang beberapa poin dan membuat si pewawancara menjadi kehilangan minat atas kita.

Selain beberapa hal tersebut, pak Reza juga memperlihatkan 4 orang peserta seminar yang maju ke depan dan diberikan suatu kasus untuk dipecahkan bersama dengan tujuan menilai karakter masing-masing dan apakah bidang yang cocok bagi mereka.
Persoalannya adalah bahwa dia sebagai penguasa afrika akan mendapat bantuan $ 1000 milyar dan keempat orang tersebut ditugaskan sebagai menteri dengan berbagai bidang. Mereka berembuk untuk menentukan alokasi uang terbesar pada departemen kementrian mana.
Terlihat ada yang berinisiatif mengajukan konsep dan ada yang menolak konsep utama yang ditawarkan , ikut-ikutan dan salah satu sebagai penengah dalam kericuhan antara dua orang yang berbeda pendapat.

Setelah melewati sesi tersebut, pak Reza memberikan analisisnya seraya berkata "sayangnya dana tersebut tidak akan saya berikan karena tidak ada yang cocok. Pak Reza menilai, orang yang pertama kali berinisiatif menerima microphone dari dia mungkin berpotensi untuk memimpin namun ternyata kelihatannya kurang tegas dan lebih cocok menjadi seorang kepala gudang , yang mengkritik konsep utama mungkin merupakan orang yang cocok jadi penasehat dan yang ikut-ikutan sebagai karyawan tulen dan yang menghibur kelompok sebagai "badut kerjaan".

Hal utama yang diincar dalam problematika ini adalah butuhnya persamaan persepsi.
Ya, seorang pemimpin harus bisa menyamakan persepsi dalam kelompok sehingga mereka dapat bekerja dengan lancar.

Beberapa hal yang saya tangkap dari seminar tersebut adalah bahwa sikap (attitude) lebih penting dari (aptitude) dalam meraih kesuksesan bahkan kontribusinya sebesar 80%. Hal yang luar biasa sekali ! Oleh sebab itu pesan pak Reza adalah agar kita tidak hanya difokuskan pada buku-buku tapi juga ilmu-ilmu lain yang mungkin tidak akan didapatkan secara formal seperti kemampuan bergaul dan kemampuan dalam berkomunikasi dalam bahasa asing yang baik.
karena dewasa ini perusahaan cenderung mencari orang-orang yang mempunyai Multiple skills dan cenderung orang yang generalis dan adaptable lah yang cocok dalam menduduki posisi top manajemen dalam perusahaan karena dapat bekerja dengan fleksibel ketika harus ditempatkan di bidang apapun.

Thanks a lot to Pak Reza yang membuka wawasan saya lebih luas tentang artinya penting komunikasi dalam membangun jaringan pertemanan yang luas dan kelancaran komunikasi dalam wawancara kerja.

Sunday, June 29, 2008

Bill Clinton & Gus Dur

Sunday, June 29, 2008 0
Suatu ketika pada waktu Gusdur menjabat sebagai Presiden RI, beliau diundang oleh Presiden AS Bill Clinton ke White House. Di tengah-tengah pembicaraan muncullah seekor anjing peliharaan Bill Clinton. Bill yang dikenal sebagai penyayang binatang itu langsung memperkenalkan anjingnya kepada Gusdur.

Bill : Gusdur, lihatlah saya punya anjing yang sangat pintar, dia bisa menuruti apa yang saya perintahkan.

Gusdur : Masa iya? Saya ingin tau.

Bill : Coba anda perhatikan. Sit Down! (anjing itu langsung duduk)

Bill : Stand up! (anjing itu langsung berdiri)

Bill : Walk around! (anjing itu langsung berjalan keliling-keliling)

Bill: Lihat! Hebat bukan?

Gusdur : Gitu aja kok repot. Saya yang baru ketemu saja bisa lebih baik dari itu.

Bill keheranan mendengar jawaban Gusdur.

Bill : Boleh Anda buktikan ucapan Anda?

Gusdur : Silahkan.

Bill : Coba Anda buat dia menangis

Gusdur berbisik kepada anjing : Ssstt... ssttt.... Anjing itu langsung menangis sedih. Bill terheran-heran.

Bill : Sekarang coba buat dia tertawa

Gusdur berbisik kepada anjing : Ssstt... ssttt.... Anjing itu langsung tertawa terbahak-bahak.

Bill kembali terheran-heran. Ia memikirkan cara supaya Gusdur gagal memerintah anjingnya.

Bill : Nah... sekarang coba bikin dia supaya stress berat...

Gusdur berpikir sejenak. Lalu dia berbisik kepada anjing tersebut Ssstt... ssttt..., sang anjing pun langsung loncat ke sana kemari sambil teriak histeris, naik ke atas meja, ke atas lemari sampai akhirnya dia melompat ke luar jendela dan jatuh ke tanah.

Bill Clinton kembali terheran-heran dan ia akhirnya mengakui kehebatan Gusdur sambil bertepuk tangan.

Bill : Boleh saya tau apa yang Anda bisikkan sehingga anjing saya menangis begitu sedih?

Gusdur : Saya bilang, kasihan Indonesia, rakyatnya banyak yang miskin, jangankan untuk beli BBM, untuk makan sehari-hari saja mereka sangat kesulitan. Kamu beruntung dipelihara oleh Bill Clinton, bisa makan kapan saja kamu mau.

Bill : Oh... pantesan. Anda memang hebat. Lalu apa yang Anda bisikkan sehingga anjing saya tertawa terbahak-bahak?

Gusdur : Saya bilang, orang Indonesia banyak yang pintar-pintar, sehat-sehat, mereka semua lebih pantas jadi presiden ketimbang saya. Tapi ternyata kok malah saya yang buta begini yang dipilih menjadi presiden.

Bill : Hahahaha... Jangankan anjing, saya juga ketawa. Anda memang jenius. Nah, lalu apa yang Anda bisikkan kepada anjing saya sehingga ia stress berat seperti itu?

Gusdur : Saya bilang, wahai anjing, saya ingin ajak kamu tinggal di Indonesia.


PS: Sekadar berpikir.... apakah standar hidup di indonesia segitu rendahnya dan menyedihkannya sehingga anjingnya bush diajakin ke indonesia langsung nangis hahahaha.....

Jadilah Pelita kebijaksanaan

Pada suatu malam, seorang buta berpamitan pulang dari rumah sahabatnya. Sang
sahabat membekalinya dengan sebuah lentera pelita. Orang buta itu
terbahak berkata: "Buat apa saya bawa pelita? Kan sama saja buat saya!
Saya bisa pulang kok." Dengan lembut sahabatnya menjawab, "Ini agar
orang lain bisa melihat kamu, biar mereka tidak menabrakmu." Akhirnya
orang buta itu setuju untuk membawa pelita tersebut. Tak berapa lama,
dalam perjalanan, seorang pejalan menabrak si buta. Dalam kagetnya, ia
mengomel, "Hei, kamu kan punya mata! Beri jalan buat orang buta dong!"
Tanpa berbalas sapa, mereka pun saling berlalu.

Lebih lanjut, seorang pejalan lainnya menabrak si
buta. Kali ini si buta bertambah marah, "Apa kamu buta? Tidak bisa
lihat ya? Aku bawa pelita ini supaya kamu bisa lihat!" Pejalan itu
menukas, "Kamu yang buta! Apa kamu tidak lihat, pelitamu sudah padam!"
Si buta tertegun.... Menyadari situasi itu, penabraknya meminta maaf,
"Oh, maaf, sayalah yang 'buta', saya tidak melihat bahwa Anda adalah
orang buta."
Si buta tersipu
menjawab, "Tidak apa-apa, maafkan saya juga atas kata-kata kasar saya."
Dengan tulus, si penabrak membantu menyalakan kembali pelita yang
dibawa si buta. Mereka pun melanjutkan perjalanan masing-masing. Dalam
perjalanan selanjutnya, ada lagi pejalan yang menabrak orang buta kita.
Kali ini, si buta lebih berhati-hati, dia bertanya dengan santun,
"Maaf, apakah pelita saya padam?" Penabraknya menjawab, "Lho, saya
justru mau menanyakan hal yang
sama." Senyap sejenak... secara
berbarengan mereka bertanya, "Apakah Anda orang buta?" Secara serempak
pun mereka menjawab, "Iya...," sembari meledak dalam tawa. Mereka pun
berupaya saling membantu menemukan kembali pelita mereka yang
berjatuhan sehabis bertabrakan.
Pada
waktu itu juga, seseorang lewat. Dalam keremangan malam, nyaris saja ia
menubruk kedua orang yang sedang mencari-cari pelita tersebut. Ia pun
berlalu, tanpa mengetahui bahwa mereka adalah orang buta. Timbul
pikiran dalam benak orang ini, "Rasanya saya perlu membawa pelita juga,
jadi saya bisa melihat jalan dengan lebih baik, orang lain juga bisa
ikut melihat jalan mereka."
Pelita
melambangkan terang kebijaksanaan. Membawa pelita berarti menjalankan
kebijaksanaan dalam hidup. Pelita, sama halnya dengan kebijaksanaan,
melindungi kita
dan pihak lain dari berbagai aral rintangan (tabrakan!).
Si
buta pertama mewakili mereka yang terselubungi kegelapan batin,
keangkuhan, kebebalan, ego, dan kemarahan. Selalu menunjuk ke arah
orang lain, tidak sadar bahwa lebih banyak jarinya yang menunjuk ke
arah dirinya sendiri. Dalam perjalanan "pulang", ia belajar menjadi
bijak melalui peristiwa demi peristiwa yang dialaminya. Ia menjadi
lebih rendah hati karena menyadari kebutaannya dan dengan adanya belas
kasih dari pihak lain. Ia juga belajar menjadi pemaaf.
Penabrak
pertama mewakili orang-orang pada umumnya, yang kurang kesadaran, yang
kurang peduli. Kadang, mereka memilih untuk "membuta" walaupun mereka
bisa melihat. Penabrak kedua mewakili mereka yang seolah bertentangan
dengan kita, yang sebetulnya menunjukkan kekeliruan kita, sengaja atau
tidak sengaja. Mereka bisa menjadi
guru-guru terbaik kita. Tak seorang pun yang mau jadi buta, sudah
selayaknya kita saling memaklumi dan saling membantu.
Orang
buta kedua mewakili mereka yang sama-sama gelap batin dengan kita.
Betapa sulitnya menyalakan pelita kalau kita bahkan tidak bisa melihat
pelitanya. Orang buta sulit menuntun orang buta lainnya. Itulah
pentingnya untuk terus belajar agar kita menjadi makin melek, semakin
bijaksana. Orang terakhir yang lewat mewakili mereka yang cukup sadar
akan pentingnya memiliki pelita kebijaksanaan.
Sudahkah kita sulut pelita dalam diri kita masing-masing? Jika sudah, apakah nyalanya masih terang, atau bahkan nyaris padam? JADILAH PELITA, bagi diri kita sendiri dan sekitar kita. Sebuah pepatah berusia 25 abad mengatakan:
Sejuta pelita dapat dinyalakan dari sebuah pelita, dan nyala pelita
pertama tidak akan meredup. Pelita kebijaksanaan pun, tak kan pernah habis terbagi
 
Albert Wu ◄Design by Pocket, BlogBulk Blogger Templates ►