Showing posts with label Philosophy. Show all posts
Showing posts with label Philosophy. Show all posts

Friday, August 7, 2009

Hidup : Seperti Roda atau Seperti Tangga ?

Friday, August 7, 2009 0
Hari ini ada yang menarik dalam training BDA-Citibank. Hadir seorang pembicara, Julian yang mengajarkan bahwa anggapan pencapaian dalam hidupnya adalah bahwa seorang pribadi, haruslah berkembang dan terus berkembang.
Kebanyakan orang melihat bahwa Hidup itu layaknya sebuah roda yang berputar, kadang posisi kita di atas, kadang di bawah. Namun ada hal baru yang Julian tawarkan, yaitu anggapan bahwa pencapaian dalam hidup ini seolah-olah terjadi seperti anak tangga. Ketika kita sedang stagnan performa maupun tidak menghasilkan hal-hal yang luar biasa.... kita tidak sedang naik ke level tangga berikutnya, namun stuck di tangga yang ada sekarang.
Hal ini lebih Win-Win solution bagi pikiran kita, dengan tidak membuat kita berkecil hati kalau-kalau kita tidak mencapai apa yang kita inginkan.
Filosofi ini juga mengajarkan untuk berpikiran maju ke depan, bukan seperti filosofi bahwa hidup itu seperti roda, yang kadang kita berada di atas, kadang berada di bawah.

Wednesday, November 12, 2008

14 Guidance of Human Life

Wednesday, November 12, 2008 0
Hari ini saya mendapat email dari milist everydaymandarin dari seorang member yang kebetulan sedang jalan-jalan ke klub wushu di Delta Mas , Surabaya
Disana dia menemukan 14 kalimat bijak yang ditempel disana.
Saya rasa, Sedikit banyak filosofi dari pedoman hidup manusia ini adalah benar dan make sense untuk diikuti.
Berikut adalah 14 pedoman tersebut, semoga berguna :D

[人生十四最]
14 Pedoman Hidup Manusia
14 Guidance of Human Life

[1]
最大的敌人是自己
Musuh terutama manusia adalah diri sendiri
Life's greatest enemy is ourself

[2]
最大的失败是自大
Kegagalan terutama manusia adalah kesombongan
Life's greatest failure is arrogant

[3]
最大的无知是欺骗 / 人生最大的欺騙是無智 ?
Kebodohan terutama manusia adalah sifat menipu
Life's greatest ignorance is dupe

[4]
最大的悲哀是嫉妒
Kesedihan terutama manusia adalah rasa iri hati
Life's greatest sorrow is jealousy

[5]
最大的错误是自弃
Kesalahan terutama manusia adalah campak diri
Life's greatest erroneous is self-abandon

[6]
最可佩服的是精进
Sifat manusia yang paling terpuji adalah semangat perjuangan untuk peningkatan
Life's greatest admiration is choice of advancing

[7]
最大的欣慰是布施
Ketentraman dan kedamaian terutama manusia adalah suka berdana dan beramal
Life's greatest gratification is alms

[8]
最大的财富是建康
Harta terutama manusia adalah kesehatan
Life's greatest wealth is healthiness

[9]
最大的礼物是宽恕
Hadiah terutama manusia adalah lapang dada dan mau memaafkan
Life's greatest gift is forgiveness

[10]
最可怜的性情是自卑
Sifat manusia terkasihan adalah rasa rendah diri
Life's greatest pitiable disposotion is self-abased

[11]
最大的罪過自欺欺人
Dosa terutama manusia adalah menipu diri dan orang lain
Life's greatest sin is to deceive oneself

[12]
最大的債務是人情債
Hutang terbesar manusia adalah hutang budi
Life's greatest liabilities is a debt of human sympathy

[13]
最大的欠缺是悲智
Kekurangan terbesar manusia adalah sifat berkeluh kesah dan tidak memiliki kebijaksanaan
Life's greatest imperfection is melancholy wisdom

[14]
最大的破產是絕望
Kehancuran terbesar manusia adalah rasa putus asa
Life's greatest insolvent is despair

Special Thanks to :
)

Sunday, July 20, 2008

Wise lessons from Lao Tzu

Sunday, July 20, 2008 0
Suatu hari guru Lao Tzu, Chang Cong yang sakit keras mendekati akhir hidupnya , Lao Tzu mengunjunginya.
"Guru, apakah guru mempunyai kata bijak terakhir untukku ?" tanya Lao Tzu kepadanya
"Sekalipun kamu tidak bertanya , aku pasti akan mengatakan sesuatu kepadamu "ujar Chang Cong
"Apakah itu ?"
"Kamu harus turun dari keretamu bila kamu melewati kota kelahiranmu"
"Ya, Guru. Ini berarti orang tidak boleh melupakan asal usulnya"
"Bila kamu melihat pohon yang tinggi , kamu harus maju dan mengaguminya "
"Ya, Guru. Ini berarti saya harus menghormati yang lebih tua"
"Sekarang lihat dan katakan apakah kamu dapat melihat lidahku ?"
"Ya."
"Apakah kamu melihat gigiku ?"
"Tidak, tidak ada gigi yang tersisa. "
"Kamu tahu kenapa?" tanya tanya Chang Cong
"Aku rasa, lidah tetap ada karena lunak . Gigi rontok karena mereka keras, benar tidak ?"
"Ya anakku " Jawab Chang Cong
"Itulah kebijaksanaan di dunia , aku tidak punya apa-apa lagi untuk diajarkan kepadamu "

Di kemudian hari, Lao Tzu berkata :
"Tidak ada sesuatupun di dunia yang selunak air , Namun tidak ada yang menggungulinya dalam mengalahkan yang keras . Yang lunak mengalahkan yang keras dan lembut mengalahkan yang kuat. Setiap orang tahu itu, tapi sedikit saja yang mempraktikannya"
(Source : Kisah-kisah kebijaksanaan China Klasik , Michael C. Tang)

Benar sekali apa yang diungkapkan oleh Lao Tzu, dapat kita lihat kenyataanya dalam perjuangan Gandhi. Bersikap keras terhadap hal yang keras tidak menyelesaikan soal namun bersikap lembut, adalah hal yang terbaik. Pelajaran ini sangat penting bagi kita ketika memasuki masyarakat, dimana jika kita bisa mengendalikan emosi kita dalam menghadapi lawan bicara yang keras. Secara perlahan-lahan , lawan bicara anda akan mulai melembut juga dalam menanggapi apa yang anda bicarakan. Terutama yang sering terjadi adalah hubungan antara atasan dan bawahan, beberapa atasan merupakan orang-orang dengan karakteristik yang keras dan cenderung mau menang sendiri, mengacuhkan pendapat anda sebagai seorang atasan. Namun kebanyakan bawahan hanya menanggapi dengan 2 cara saja.
Pertama, mengikuti aturan main si boss walaupun keputusan dari si boss tidak sreg di hati
Kedua, menentang si atasan karena idealisme kita dalam debat yang berapi-api yang berujung pada dipecat

Bagaimana kalau kita mengambil sedikit pelajaran kebijaksanaan dari Lao Tzu dan menerapkannya dengan mengkomunikasikan secara halus, perlahan dan tidak secara frontal menyinggung atasan, dibarengi dengan kata-kata manis yang dapat membuat si atasan membumbung tinggi. Tentunya si atasan lama kelamaan akan berubah menjadi lebih lunak dan mau mendengarkan pendapat kita.

Thursday, June 19, 2008

Do your best and let the God do the rest

Thursday, June 19, 2008 0
There's some people sayings...
"Do your best and let the God do the rest"

Yeah itulah kata-kata populer yang saya dengar dari beberapa orang yang religius. Bukannya menjadi orang yang munafik, tapi mengharapkan Tuhan saja tidak cukup jika kita hanya bisa melakukan yang terbaik pekerjaan kita sehari-hari. Tahukah bahwa kata-kata ini seringkali menyesatkan kita , dalam pemikiran bawah sadar kita terbersit rasa "aman" karena telah melakukan yang terbaik dalam pekerjaan kita sementara kita berdoa agar Tuhan ikut campur dalam pekerjaan kita dan menyempurnakan pekerjaan kita.
Classic fallacy,
Jika seandainya seorang pelajar mempunyai target untuk mendapatkan nilai 10
dalam ujian dia merasa sudah melakukan yang terbaik, namun ternyata hal berkata lain dan dia tidak berhasil mendapatkan nilai 10. apakah hal tersebut dapat kita katakan sebagai "God do the rest ?" hohoho, hal ini mungkin akan membuat kita menyalahkan Tuhan.
persepsi "My best I can do" bagi sebagian orang mungkin berbeda-beda jika ditanyakan pada tipe orang yang :
  • Climbers
  • Campers
  • Quitters
bagi tipikal Climbers yang cenderung ambisius dan agresif, melakukan hal terbaik adalah "pull out yourself till the last of your strength out" sedangkan bagi Campers, menjadi yang terbaik bukanlah dalam pengertian yang ekstrim tetapi sudah sampai pada tahap tertentu dan sudah cukup berpuas diri . Apalagi bagi tipikal quitters, "Do your best" mungkin bagi dia adalah hal yang "sebisanya" saja.

Saya punya pandangan sendiri mengenai filosofi ini, Bagaimana kalau kita mengatakan
"Do your best as if as God don't do the rest"
maka kita akan bersunguh-sunguh sekali dalam hal ini. Dalam bayangkan kita semuanya harus di push hingga ke limit dari performa kita. Secara tidak langsung akan memberikan input kepada alam bawah sadar kita untuk berlaku demikian dan bahkan orang yang punya tendesi menjadi Quitter dapat menjadi seorang Climber

Sunday, June 15, 2008

Hukum Pygmalion

Sunday, June 15, 2008 0
Pygmalion dikenal sebagai orang yang suka berpikiran positif. Ia memandang segala sesuatu dari sudut yang baik. Apabila lapangan di tengah kota becek, orang-orang mengomel. Tetapi Pygmalion berkata, “Untunglah, lapangan yang lain tidak sebecek ini.” Ketika ada seorang pembeli patung ngotot menawar-nawar harga, kawan-kawan Pygmalion berbisik, “Kikir betul orang itu.” Tetapi Pygmalion berkata, “Mungkin orang itu perlu mengeluarkan uang untuk urusan lain yang lebih perlu”. Ketika anak-anak mencuri apel dikebunnya, Pygmalion tidak mengumpat. Ia malah merasa iba, “Kasihan, anak-anak itu kurang mendapat pendidikan dan makanan yang cukup di rumahnya.” Itulah pola pandang Pygmalion. Ia tidak melihat suatu keadaan dari segi buruk, melainkan justru dari segi baik. Ia tidak pernah berpikir buruk tentang orang lain; sebaliknya, ia mencoba membayangkan hal-hal baik dibalik perbuatan buruk orang lain.

Pada suatu hari Pygmalion mengukir sebuah patung wanita dari kayu yang sangat halus. Patung itu berukuran manusia sungguhan. Ketika sudah rampung, patung itu tampak seperti manusia betul. Wajah patung itu tersenyum manis menawan, tubuhnya elok menarik.

Kawan-kawan Pygmalion berkata, “Ah,sebagus- bagusnya patung, itu cuma patung, bukan isterimu.”

Tetapi Pygmalion memperlakukan patung itu sebagai manusia betul. Berkali-kali patung itu ditatapnya dan dielusnya.

Para dewa yang ada di Gunung Olympus memperhatikan dan menghargai sikap Pygmalion, lalu mereka memutuskan untuk memberi anugerah kepada Pygmalion, yaitu mengubah patung itu menjadi manusia betul. Begitulah, Pygmalion hidup berbahagia dengan isterinya itu yang konon adalah wanita tercantik di seluruh negeri Yunani. Nama Pygmalion dikenang hingga kini untuk mengambarkan dampak pola berpikir yang positif. Kalau kita berpikir positif tentang suatu keadaan atau seseorang, seringkali hasilnya betul-betul menjadi positif. Misalnya, Jika kita bersikap ramah terhadap seseorang, maka orang itupun akan menjadi ramah terhadap kita.

Jika kita memperlakukan anak kita sebagai anak yang cerdas, akhirnya dia betul-betul menjadi cerdas.

Jika kita yakin bahwa upaya kita akan berhasil, besar sekali kemungkinan upaya dapat merupakan separuh keberhasilan.

Dampak pola berpikir positif itu disebut dampak Pygmalion. Pikiran kita memang seringkali mempunyai dampak fulfilling prophecy atau ramalan tergenapi, baik positif maupun negatif. Kalau kita menganggap tetangga kita judes sehingga kita tidak mau bergaul dengan dia, maka akhirnya dia betul-betul menjadi judes. Kalau kita mencurigai dan menganggap anak kita tidak jujur, akhirnya ia betul-betul menjadi tidak jujur.

Kalau kita sudah putus asa dan merasa tidak sanggup pada awal suatu usaha, besar sekali kemungkinannya kita betul-betul akan gagal.

Pola pikir Pygmalion adalah berpikir, menduga dan berharap hanya yang baik tentang suatu keadaan atau seseorang. Bayangkan, bagaimana besar dampaknya bila kita berpola pikir positif seperti itu. Kita tidak akan berprasangka buruk tentang orang lain. Kita tidak menggunjingkan desas-desus yang jelek tentang orang lain. Kita tidak menduga-duga yang jahat tentang orang lain.

Kalau kita berpikir buruk tentang orang lain, selalu ada saja bahan untuk menduga hal-hal yang buruk. Jika ada seorang kawan memberi hadiah kepada kita, jelas itu adalah perbuatan baik. Tetapi jika kita berpikir buruk,kita akan menjadi curiga, “Barangkali ia sedang mencoba membujuk,” atau kita mengomel, “Ah, hadiahnya cuma barang murah.” Yang rugi dari pola pikir seperti itu adalah diri kita sendiri.Kita menjadi mudah curiga. Kita menjadi tidak bahagia. Sebaliknya, kalau kita berpikir positif, kita akan menikmati hadiah itu dengan rasa gembira dan syukur, “Ia begitu murah hati. Walaupun ia sibuk, ia ingat untuk memberi kepada kita.”

Warna hidup memang tergantung dari warna kaca mata yang kita pakai. Kalau kita memakai kaca mata kelabu, segala sesuatu akan tampak kelabu. Hidup menjadi kelabu dan suram. Tetapi kalau kita memakai kaca mata yang terang, segala sesuatu akan tampak cerah. Kaca mata yang berprasangka atau benci akan menjadikan hidup kita penuh rasa curiga dan dendam. Tetapi kaca mata yang damai akan menjadikan hidup kita damai.

Hidup akan menjadi baik kalau kita memandangnya dari segi yang baik. Berpikir baik tentang diri sendiri. Berpikir baik tentang orang lain. Berpikir baik tentang keadaan. Berpikir baik tentang Tuhan. Dampak berpikir baik seperti itu akan kita rasakan. Keluarga menjadi hangat. Kawan menjadi bisa dipercaya. Tetangga menjadi akrab. Pekerjaan menjadi menyenangkan. Dunia menjadi ramah. Hidup menjadi indah. Seperti Pygmalion, begitulah.

MAKE SURE YOU ARE PYGMALION and the world will be filled with positive people only…….. ….how nice!!!!Pygmalion dikenal sebagai orang yang suka berpikiran positif. Ia memandang segala sesuatu dari sudut yang baik. Apabila lapangan di tengah kota becek, orang-orang mengomel. Tetapi Pygmalion berkata, “Untunglah, lapangan yang lain tidak sebecek ini.” Ketika ada seorang pembeli patung ngotot menawar-nawar harga, kawan-kawan Pygmalion berbisik, “Kikir betul orang itu.” Tetapi Pygmalion berkata, “Mungkin orang itu perlu mengeluarkan uang untuk urusan lain yang lebih perlu”. Ketika anak-anak mencuri apel dikebunnya, Pygmalion tidak mengumpat. Ia malah merasa iba, “Kasihan, anak-anak itu kurang mendapat pendidikan dan makanan yang cukup di rumahnya.”

Itulah pola pandang Pygmalion. Ia tidak melihat suatu keadaan dari segi buruk, melainkan justru dari segi baik. Ia tidak pernah berpikir buruk tentang orang lain; sebaliknya, ia mencoba membayangkan hal-hal baik dibalik perbuatan buruk orang lain.

Pada suatu hari Pygmalion mengukir sebuah patung wanita dari kayu yang sangat halus. Patung itu berukuran manusia sungguhan. Ketika sudah rampung, patung itu tampak seperti manusia betul. Wajah patung itu tersenyum manis menawan, tubuhnya elok menarik.

Kawan-kawan Pygmalion berkata, “Ah,sebagus- bagusnya patung, itu cuma patung, bukan isterimu.”

Tetapi Pygmalion memperlakukan patung itu sebagai manusia betul. Berkali-kali patung itu ditatapnya dan dielusnya.

Para dewa yang ada di Gunung Olympus memperhatikan dan menghargai sikap Pygmalion, lalu mereka memutuskan untuk memberi anugerah kepada Pygmalion, yaitu mengubah patung itu menjadi manusia betul. Begitulah, Pygmalion hidup berbahagia dengan isterinya itu yang konon adalah wanita tercantik di seluruh negeri Yunani. Nama Pygmalion dikenang hingga kini untuk mengambarkan dampak pola berpikir yang positif. Kalau kita berpikir positif tentang suatu keadaan atau seseorang, seringkali hasilnya betul-betul menjadi positif. Misalnya, Jika kita bersikap ramah terhadap seseorang, maka orang itupun akan menjadi ramah terhadap kita.

Jika kita memperlakukan anak kita sebagai anak yang cerdas, akhirnya dia betul-betul menjadi cerdas.

Jika kita yakin bahwa upaya kita akan berhasil, besar sekali kemungkinan upaya dapat merupakan separuh keberhasilan.

Dampak pola berpikir positif itu disebut dampak Pygmalion. Pikiran kita memang seringkali mempunyai dampak fulfilling prophecy atau ramalan tergenapi, baik positif maupun negatif. Kalau kita menganggap tetangga kita judes sehingga kita tidak mau bergaul dengan dia, maka akhirnya dia betul-betul menjadi judes. Kalau kita mencurigai dan menganggap anak kita tidak jujur, akhirnya ia betul-betul menjadi tidak jujur.

Kalau kita sudah putus asa dan merasa tidak sanggup pada awal suatu usaha, besar sekali kemungkinannya kita betul-betul akan gagal.

Pola pikir Pygmalion adalah berpikir, menduga dan berharap hanya yang baik tentang suatu keadaan atau seseorang. Bayangkan, bagaimana besar dampaknya bila kita berpola pikir positif seperti itu. Kita tidak akan berprasangka buruk tentang orang lain. Kita tidak menggunjingkan desas-desus yang jelek tentang orang lain. Kita tidak menduga-duga yang jahat tentang orang lain.

Kalau kita berpikir buruk tentang orang lain, selalu ada saja bahan untuk menduga hal-hal yang buruk. Jika ada seorang kawan memberi hadiah kepada kita, jelas itu adalah perbuatan baik. Tetapi jika kita berpikir buruk,kita akan menjadi curiga, “Barangkali ia sedang mencoba membujuk,” atau kita mengomel, “Ah, hadiahnya cuma barang murah.” Yang rugi dari pola pikir seperti itu adalah diri kita sendiri.Kita menjadi mudah curiga. Kita menjadi tidak bahagia. Sebaliknya, kalau kita berpikir positif, kita akan menikmati hadiah itu dengan rasa gembira dan syukur, “Ia begitu murah hati. Walaupun ia sibuk, ia ingat untuk memberi kepada kita.”

Warna hidup memang tergantung dari warna kaca mata yang kita pakai. Kalau kita memakai kaca mata kelabu, segala sesuatu akan tampak kelabu. Hidup menjadi kelabu dan suram. Tetapi kalau kita memakai kaca mata yang terang, segala sesuatu akan tampak cerah. Kaca mata yang berprasangka atau benci akan menjadikan hidup kita penuh rasa curiga dan dendam. Tetapi kaca mata yang damai akan menjadikan hidup kita damai.

Hidup akan menjadi baik kalau kita memandangnya dari segi yang baik. Berpikir baik tentang diri sendiri. Berpikir baik tentang orang lain. Berpikir baik tentang keadaan. Berpikir baik tentang Tuhan. Dampak berpikir baik seperti itu akan kita rasakan. Keluarga menjadi hangat. Kawan menjadi bisa dipercaya. Tetangga menjadi akrab. Pekerjaan menjadi menyenangkan. Dunia menjadi ramah. Hidup menjadi indah. Seperti Pygmalion, begitulah.

MAKE SURE YOU ARE PYGMALION and the world will be filled with positive people only…….. ….how nice!!!!

 
Albert Wu ◄Design by Pocket, BlogBulk Blogger Templates ►