Friday, December 5, 2008

Hachiko, Kesetiaan Seekor Anjing

Friday, December 5, 2008 0

Hachiko, kesetiaan seekor anjing
Di Kota Shibuya, Jepang, tepatnya di alun-alun sebelah timur Stasiun
Kereta Api Shibuya, terdapat patung yang sangat termasyur. Bukan
patung pahlawan ataupun patung selamat datang, melainkan patung
seekor anjing. Dibuat oleh Ando Takeshi pada tahun 1935 untuk
mengenang kesetiaan seekor anjing kepada tuannya.

Seorang Profesor setengah tua tinggal sendirian di Kota Shibuya.
Namanya Profesor Hidesamuro Ueno. Dia hanya ditemani seekor anjing
kesayangannya, Hachiko. Begitu akrab hubungan anjing dan tuannya itu
sehingga kemanapun pergi Hachiko selalu mengantar. Profesor itu
setiap hari berangkat mengajar di universitas selalu menggunakan
kereta api.. Hachiko pun setiap hari setia menemani Profesor sampai
stasiun. Di stasiun Shibuya ini Hachiko dengan setia menunggui
tuannya pulang tanpa beranjak pergi sebelum sang profesor kembali.
Dan ketika Profesor Ueno kembali dari mengajar dengan kereta api, dia
selalu mendapati Hachiko sudah menunggu dengan setia di stasiun.
Begitu setiap hari yang dilakukan Hachiko tanpa pernah bosan.

Musim dingin di Jepang tahun ini begitu parah. Semua tertutup salju.
Udara yang dingin menusuk sampai ke tulang sumsum membuat warga
kebanyakan enggan ke luar rumah dan lebih memilih tinggal dekat
perapian yang hangat.

Pagi itu, seperti biasa sang Profesor berangkat mengajar ke kampus.
Dia seorang profesor yang sangat setia pada profesinya. Udara yang
sangat dingin tidak membuatnya malas untuk menempuh jarak yang jauh
menuju kampus tempat ia mengajar. Usia yang semakin senja dan tubuh
yang semakin rapuh juga tidak membuat dia beralasan untuk tetap
tinggal di rumah. Begitu juga Hachiko, tumpukan salju yang tebal
dimana-mana tidak menyurutkan kesetiaan menemani tuannya berangkat
kerja. Dengan jaket tebal dan payung yang terbuka, Profesor Ueno
berangkat ke stasun Shibuya bersama Hachiko.
Tempat mengajar Profesor Ueno sebenarnya tidak terlalu jauh dari
tempat tinggalnya. Tapi memang sudah menjadi kesukaan dan kebiasaan
Profesor untuk naik kereta setiap berangkat maupun pulang dari
universitas.

Kereta api datang tepat waktu. Bunyi gemuruh disertai terompet
panjang seakan sedikit menghangatkan stasiun yang penuh dengan orang-
orang yang sudah menunggu itu. Seorang awak kereta yang sudah hafal
dengan Profesor Ueno segera berteriak akrab ketika kereta berhenti.
Ya, hampir semua pegawai stasiun maupun pegawai kereta kenal dengan
Profesor Ueno dan anjingnya yang setia itu, Hachiko. Karena memang
sudah bertahun-tahun dia menjadi pelanggan setia kendaraan berbahan
bakar batu bara itu.

Setelah mengelus dengan kasih sayang kepada anjingnya layaknya dua
orang sahabat karib, Profesor naik ke gerbong yang biasa ia tumpangi.
Hachiko memandangi dari tepian balkon ke arah menghilangnya profesor
dalam kereta, seakan dia ingin mengucapkan,†saya akan menunggu tuan
kembali.â€

“ Anjing manis, jangan pergi ke mana-mana ya, jangan pernah pergi
sebelum tuan kamu ini pulang!†teriak pegawai kereta setengah
berkelakar.

Seakan mengerti ucapan itu, Hachiko menyambut dengan suara agak
keras,â€guukh!â€
Tidak berapa lama petugas balkon meniup peluit panjang, pertanda
kereta segera berangkat. Hachiko pun tahu arti tiupan peluit panjang
itu. Makanya dia seakan-akan bersiap melepas kepergian profesor
tuannya dengan gonggongan ringan. Dan didahului semburan asap yang
tebal, kereta pun berangkat. Getaran yang agak keras membuat salju-
salju yang menempel di dedaunan sekitar stasiun sedikit berjatuhan.

Di kampus, Profesor Ueno selain jadwal mengajar, dia juga ada tugas
menyelesaikan penelitian di laboratorium. Karena itu begitu selesai
mengajar di kelas, dia segera siap-siap memasuki lab untuk
penelitianya. Udara yang sangat dingin di luar menerpa Profesor yang
kebetulah lewat koridor kampus.

Tiba-tiba ia merasakan sesak sekali di dadanya. Seorang staf pengajar
yang lain yang melihat Profesor Ueno limbung segera memapahnya ke
klinik kampus. Berawal dari hal yang sederhana itu, tiba-tiba kampus
jadi heboh karena Profesor Ueno pingsan. Dokter yang memeriksanya
menyatakan Profesor Ueno menderita penyakit jantung, dan siang itu
kambuh. Mereka berusaha menolong dan menyadarkan kembali Profesor.
Namun tampaknya usaha mereka sia-sia. Profesor Ueno meninggal dunia.
Segera kerabat Profesor dihubungi. Mereka datang ke kampus dan
memutuskan membawa jenazah profesor ke kampung halaman mereka, bukan
kembali ke rumah Profesor di Shibuya..

Menjelang malam udara semakin dingin di stasiun Shibuya. Tapi Hachiko
tetap bergeming dengan menahan udara dingin dengan perasaan gelisah.
Seharusnya Profesor Ueno sudah kembali, pikirnya. Sambil mondar-
mandir di sekitar balkon Hachiko mencoba mengusir kegelisahannya.
Beberapa orang yang ada di stasiun merasa iba dengan kesetiaan anjing
itu. Ada yang mendekat dan mencoba menghiburnya, namun tetap saja
tidak bisa menghilangkan kegelisahannya.

Malam pun datang. Stasiun semakin sepi. Hachiko masih menunggu di
situ. Untuk menghangatkan badannya dia meringkuk di pojokan salah
satu ruang tunggu. Sambil sesekali melompat menuju balkon setiap kali
ada kereta datang, mengharap tuannya ada di antara para penumpang
yang datang. Tapi selalu saja ia harus kecewa, karena Profesor Ueno
tidak pernah datang. Bahkan hingga esoknya, dua hari kemu dian , dan
berhari-hari berikutnya dia tidak pernah datang. Namun Hachiko tetap
menunggu dan menunggu di stasiun itu, mengharap tuannya kembali.
Tubuhnya pun mulai menjadi kurus.

Para pegawai stasiun yang kasihan melihat Hachiko dan penasaran
kenapa Profesor Ueno tidak pernah kembali mencoba mencari tahu apa
yang terjadi. Akhirnya didapat kabar bahwa Profesor Ueno telah
meninggal dunia, bahkan telah dimakamkan oleh kerabatnya.

Mereka pun berusaha memberi tahu Hachiko bahwa tuannya tak akan
pernah kembali lagi dan membujuk agar dia tidak perlu menunggu terus.
Tetapi anjing itu seakan tidak percaya, atau tidak peduli. Dia tetap
menunggu dan menunggu tuannya di stasiun itu, seakan dia yakin bahwa
tuannya pasti akan kembali. Semakin hari tubuhnya semakin kurus
kering karena jarang makan.

Akhirnya tersebarlah berita tentang seekor anjing yang setia terus
menunggu tuannya walaupun tuannya sudah meninggal. Warga pun banyak
yang datang ingin melihatnya. Banyak yang terharu. Bahkan sebagian
sempat menitikkan air matanya ketika melihat dengan mata kepala
sendiri seekor anjing yang sedang meringkuk di dekat pintu masuk
menunggu tuannya yang sebenarnya tidak pernah akan kembali. Mereka
yang simpati itu ada yang memberi makanan, susu, bahkan selimut agar
tidak kedinginan.

Selama 9 tahun lebih, dia muncul di station setiap harinya pada pukul
3 sore, saat dimana dia biasa menunggu kepulangan tuannya. Namun hari-
hari itu adalah saat dirinya tersiksa karena tuannya tidak kunjung
tiba. Dan di suatu pagi, seorang petugas kebersihan stasiun tergopoh-
gopoh melapor kepada pegawai keamanan. Sejenak kemu dian suasana
menjadi ramai. Pegawai itu menemukan tubuh seekor anjing yang sudah
kaku meringkuk di pojokan ruang tunggu. Anjing itu sudah menjadi
mayat. Hachiko sudah mati. Kesetiaannya kepada sang tuannya pun
terbawa sampai mati.

Warga yang mendengar kematian Hachiko segera berduyun-duyun ke
stasiun Shibuya.. Mereka umumnya sudah tahu cerita tentang kesetiaan
anjing itu. Mereka ingin menghormati untuk yang terakhir kalinya.
Menghormati sebuah arti kesetiaan yang kadang justru langka terjadi
pada manusia.

Mereka begitu terkesan dan terharu. Untuk mengenang kesetiaan anjing
itu mereka kemu dian membuat sebuah patung di dekat stasiun Shibuya.
Sampai sekarang taman di sekitar patung itu sering dijadikan tempat
untuk membuat janji bertemu. Karena masyarakat di sana berharap ada
kesetiaan seperti yang sudah dicontohkan oleh Hachiku saat mereka
harus menunggu maupun janji untuk datang.. Akhirnya patung Hachiku
pun dijadikan symbol kesetiaan. Kesetiaan yang tulus, yang terbawa
sampai mati.

Sungguh kisah yg menggugah hati.....tak habis2nya saya meneteskan air
mata membaca cerita hidup Hachiko....

Dealing with Difficult Customers

Dealing with Difficult Customers
by Dave Kahle.
It is easy to work with people you like, and it is even easier to work with people who like you. But that's not always the case. Sooner or later, you'll have to deal with a difficult customer.

Difficult customers come in a wide variety. There are those whose personality rubs you the wrong way. They may not be difficult for someone else, but they are for you. And then there are those who are difficult for everyone: Picky people, know-it-alls, egocentrics, fault-finders, constant complainers, etc. Every salesperson can list a number of the types.

But perhaps the most difficult for everyone is the angry customer. This is someone who feels that he or she has been wronged, and is upset and emotional about it. These customers complain, and they are angry about something you or your company did.

There are some sound business reasons to become adept in handling an angry customer. Research indicates that customers who complain are likely to continue doing business with your company if they feel that they were treated properly. It's estimated that as many as 90% of customers who perceive themselves as having been wronged never complain, they just take their business elsewhere. So, angry, complaining customers care enough to talk to you, and have not yet decided to take their business to the competition. They are customers worth saving.

Not only are there benefits to your company, but you personally gain as well. Become adept at handling angry customers, and you¢ll feel much more confident in your own abilities. If you can handle this, you can handle anything. While any one can work with the easy people, it takes a real professional to be successful with the difficult customers. Your confidence will grow, your poise will increase, and your self-esteem will intensify.

On the other hand, if you mishandle it, and you'll watch the situation dissolve into lost business and upset people. You may find yourself upset for days.

So, how do you handle an angry, complaining customer? Let's begin with a couple tools you can use in these situations.

1. RESPECT. It can be difficult to respect a person who may be yelling, swearing or behaving like a two-year-old. I'm not suggesting you respect the behavior, only that you respect the person. Keep in mind that 99 times out of 100 you are not the object of the customer's anger. You are like a small tree in the path of a swirling tornado. But unlike the small tree, you have the power to withstand the wind.

What is the source of your power? Unlike the customer, you are not angry, you are in control, and your only problem at the moment is helping him with his problem. If you step out of this positioning, and start reacting to the customer in an emotional way, you'll lose control, you¢ll lose your power, and the situation will be likely to escalate into a lose-lose for everyone. So, begin with a mindset that says, "No matter what, I will respect the customer."

2. EMPATHY. Put yourself in the customer's shoes, and try to see the situation from his/her perspective. Don't try and cut him off, don't urge him to calm down. Instead, listen carefully. If someone is angry or upset, it is because that person feels injured in some way. Your job is to let the customer vent and to listen attentively in order to understand the source of that frustration. When you do that, you send a powerful unspoken message that you care about him and his situation.

Often, as the customer comes to realize that you really do care and that you are going to attempt to help him resolve the problem, the customer will calm down on his own, and begin to interact with you in a positive way.

Here's how you can use these two tools in an easily-remembered process for dealing with angry customers.

CRACK THE EGG

Imagine that you have a hard-boiled egg. The rich yellow yolk at the center of the egg represents the solution to the customer's problem, the hardened white which surrounds the yolk represents the details of the customer's situation, and the hard shell represents his/her anger.

In order to get to the yolk, and resolve the situation, you must first crack the shell. In other words, you have got to penetrate the customer¢s anger. Then you've got to cut through the congealed egg white. That means that you understand the details of the customer¢s situation. Finally, you're at the heart of the situation, where you can offer a solution to the customer's problem.

So, handling an angry customer is like cutting through a hard-boiled egg. Here's a four-step process to help you do so.

1. LISTEN.
Let's say you stop to see one of your regular customers. He doesn't even give you time to finish your greeting before he launches into a tirade.

At this point, about all you can do is LISTEN. And that's what you do. You don't try and cut him off, you don't urge him to calm down. Not just yet. Instead, you listen carefully. And as you listen, you begin to piece together his story. He ordered a piece of equipment three weeks ago. You quoted him X price and delivery by last Friday for a project that's starting this week. Not only is the equipment not there, but he received an invoice for it at a different price than was quoted.

"What kind of shoddy operation is this?" he wants to know. Do you understand how important his project is? Do you know how much time and money is at stake? If he doesn't get his equipment and something happens to this project, you're going to pay for it. He knew, he just knew he should have ordered the equipment from your competitor. What are you going do about it?

Now you have the basic story. Hopefully, after this gush of frustration, there will be a pause while he comes up for air.

More often than not, once the customer has had an initial chance to vent his rage, it's going to die down a little, and that's your opportunity to take step in.

Even if he has started calming down on his own, there comes a moment - and I can almost guarantee you'll sense it - to help calm him down. Try something along the lines of: "It sounds like something has gone wrong, and I can understand your frustration. I'm sorry you're experiencing this problem. Let's take a look at the next step."

Try to calm yourself first, and then to acknowledge his feelings. Say, "I can tell you're upset..." or, "It sounds like you're angry..." then connect to the customer by apologizing, or empathizing. When you say something like "I'm sorry that happened. If I were you, I'd be frustrated, too." It's amazing how much of a calming effect that can have.

Remember, anger is a natural, self-defensive reaction to a perceived wrong. If there is a problem with your company¢s product or service, some frustration and disappointment is justified.

This is so important, let me repeat it. First you listen carefully and completely to the customer. Then you empathize with what the customer is feeling, and let him or her know that you understand. This will almost always calm the customer down. You've cracked the shell of the egg. Now, you can proceed to deal with the problem

2. IDENTIFY THE PROBLEM.
Sometimes while the angry customer is venting, you'll be able to latch right on to the problem because it's clear-cut. Something is broken. Or late. Or he thinks a promise has been broken.
But sometimes in the middle of all that rage, it's tough to comprehend the bottom-line issue. This is a good place for some specific questions. Ask the customer to give you some details. "What day did he order it, when exactly was it promised. What is his situation at the moment?" These kind of questions force the customer to think about facts instead of his/her feelings about those facts. So, you interject a more rational kind of conversation. Think of this step of the process as cutting through the white of the egg to get to the yolk at the center.

It's important, when you think you understand the details, to restate the problem. You can say, "Let me see if I have this right. You were promised delivery last Friday, because you need it for an important project this coming week. But you haven't received our product yet. Is that correct?"

He will probably acknowledge that you've sized up the situation correctly. Or, he may say, "No, that's not right" and then proceed to explain further. In either case the outcome is good, because you will eventually understand his situation correctly, and have him tell you that "Yes, that's right."

And at that point you can apologize. Some people believe that an apology is an acknowledgment of wrongdoing. But you can appreciate and apologize for the customer's inconvenience without pointing fingers. Just say, "Mr. Brady, I'm sorry this has happened." Or "Mr. Brady. I understand this must be very frustrating. Let's just see what we can do fix it, OK?"

3. AVOID BLAME.
You don't want to blame the customer by saying something like "Are you sure you understood the price and delivery date correctly?" This will just ignite his anger all over again because you are questioning his credibility and truth-telling.

And you don't want to blame your company or your suppliers Never say, "I¢m not surprised your invoice was wrong. It's been happening a lot." Or, "Yes, our backorders are way behind."

In general, you AVOID BLAME. Which is different than acknowledging responsibility. For example, if you know, for a fact, a mistake has been made, you can acknowledge it and apologize for it. "Mr. Brady, clearly there's a problem here with our performance. I can't change that, but let me see what I can do to help you out because I understand how important your project is."

4. RESOLVE THE PROBLEM.
Now you¢re at the heart of the egg. You won't always be able to fix the problem perfectly. And you may need more time than a single phone call. But it's critical to leave the irate customer with the understanding that your goal is to resolve the problem. You may need to say, "I'm going to need to make some phone calls." If you do, give the customer an idea of when you¢ll get back to him: "Later this afternoon." Or "First thing in the morning."

Then do it. Make the phone calls. Get the information. Find out what you can do for this customer and do it. Then follow up with the customer when you said you would. Even if you don't have all the information you need, call when you said you would and at least let him know what you've done, what you're working on and what your next step will be. Let the customer know that he and his business are important to you, that you understand his frustration, and that you're working hard to get things fixed.

Use the tools of respect and empathy, and the "crack the egg" process, and you'll move your professionalism up a notch.

The Seven Gifts of Business

Berikut ini saya cuplikan The Seven Gifts of Business dari Laurie Beth Jones, semoga bermanfaat.

At its best, business offers us seven gifts:

1. DIGNITY. The ability to create jobs that give people a sense of dignity and purpose, as well as a reason to get up in the morning, is one of the most important offerings of business.

2. ACKNOWLEDGMENT. Business ideally create an atmosphere where the gifts and talents of the people within them are recognized and rewarded. This recognition encourages people to grow

3. PROSPERITY. Business helps create abundance for entire communities, bringing new levels of activity and prosperity to entire groups of people. If you've ever driven through a ghost town, you will recognize that where there is no commerce, entire communities dry up and ...die

4. INTEGRITY. Businesses can survive only if they create value and deliver goods and services as promised, on time

5. SERVICE. Businesses must constantly evaluate how they treat their customers. Successful businesses have a culture of service and respect that can elevate the self-esteem of everyone they encounter

6. COMMUNITY. Businesses create a community where people interact, and get to know and care for one another. In many instances, the workplace has become the village

7. CHALLENGE. Businesses constantly challenge people to stretch emotionally, intellectually, and spiritually, learning as they grow.

Monday, December 1, 2008

Kuda, Wortel dan Rumput

Monday, December 1, 2008 0
Kadang-kadang cinta butuh waktu untuk menunggu.....

Suatu hari ketika aku sedang ngobrol dengan "seseorang" yang telah kukenal sejak SMA... hari itu rasanya perasaanku terbuka lagi untuk kesekian lagi setelah meninggalkan dan menghilang dari hadapannya selama dua tahun. Berbicara tentang masa lalu dan cowok yang pernah menjadi pacarnya dan mengejarnya . Sampailah pada perbincangan , terfokus pada seorang cowok. Yang dia penasaran, kenapa si pria tersebut akhirnya menyerah juga dan mencari cewek lain.
Karena aku tidak ingin menyakiti perasaannya , maka aku terinspirasi untuk menceritakan suatu cerita yang simpel, sederhana dan mudah ditangkap oleh dirinya. Yaitu tentang Kuda, wortel dan rumput. Walaupun tidak diceritakan dengan gaya yang baku dan lengkap,namun dia menangkap maksudnya.

Berikut ini aku akan menceritakan tentang cerita tersebut secara lengkap

Ada seorang petani, karena memiliki kuda yang kelelahan dan kelaparan.
Karena perjalanan masih jauh dan sedang mengejar waktu.
Akhirnya dia mencari ide, bagaimana kuda tersebut bisa tetap berjalan dengan semangat. Terpikirlah olehnya makanan sebagai pemancing kuda itu. Maka dengan sisa-sisa panenannya , salah satunya wortel digunakan untuk memancing kuda tersebut.
Wortel itu digantungkan dengan jarak 30 cm dari jangkauan kuda tersebut agar kuda tersebut dapat tetap melihat wortel dan semangat berjalan...
Akhirnya kuda tersebut berhasil sampai ke tempat yang ada padang rumput.
Kemudian si petani pun mengistirahatkan kuda tersebut di padang rumput tersebut

Kemudian aku bertanya, kuda tersebut kira-kira akan memilih yang mana ?
tentunya rumput bukan ? lebih hijau, lebih muda dan banyak lagi....

Hal ini aku hubungkan dengan dirinya, memang umurnya lebih matang dan juga cara dia memperlakukan pria kebanyakan membuat pria manapun bisa tergoda dan ingin memilikinya namun seringkali dia terlalu membatasi diri dan terkadang, terlalu mengacuhkan perasaan orang lain. Sehingga lama kelamaan akhirnya pria tersebut tidak sabaran dan akhirnya memilih dengan gadis yang lain.

Aku kembali menambahkan cerita tersebut, ada dua kemungkinan yang terjadi sebenarnya
Kuda memilih rumput karena wortel sulit diraih , rumput lebih segar dan hijau
ataukah kuda nya bego mau dikelabui dan tetap mau mengejar wortel , yang mungkin semakin lama semakin layu ?

Aku sangat menyayangi dirinya, walaupun
begitu banyak keterbatasan yang dia berikan kepada diriku
berkali-kali dia keluar dengan pria lain dan membuatku cemburu

Hingga sekarang, aku tidak bisa menjelaskan apakah hubunganku dengan dia, apa seorang sahabat atau kekasih.
Aku seringkali larut dalam kegelisahan dan ketidakpastian perasaan ini.....

Kisah kuda dan wortel menjelaskan sudut pandang pria kepada dirinya serta mencurahkan apa yang sudah lama ingin kusampaikan.
Walaupun sepertinya mendapatkan wortel yang digantung tersebut serasa tidak mungkin , namun aku tidak pernah menyerah....
Kenapa ? aku sendiri tidak tahu...
namun.....
siapa tahu suatu hari wortel terlepas dari tali yang mengikatnya selama ini ?
siapa tahu suatu kali wortel berayun-ayun dan akhirnya teraih oleh kuda juga ?

Tidak ada yang tahu....
Time will tells us what'll happen next

Berbekal harapan dan kepasrahan , aku akan tetap menjadi kuda yang bodoh tersebut.
Mungkin si kuda akan mengejarnya terus menerus hingga akhir hayatnya
mungkin juga si kuda akan mengejarnya hingga kuda tersebut sudah terlalu lelah dan akhirnya memutuskan untuk memilih rumput saja.

sumber : unknown

Wednesday, November 12, 2008

14 Guidance of Human Life

Wednesday, November 12, 2008 0
Hari ini saya mendapat email dari milist everydaymandarin dari seorang member yang kebetulan sedang jalan-jalan ke klub wushu di Delta Mas , Surabaya
Disana dia menemukan 14 kalimat bijak yang ditempel disana.
Saya rasa, Sedikit banyak filosofi dari pedoman hidup manusia ini adalah benar dan make sense untuk diikuti.
Berikut adalah 14 pedoman tersebut, semoga berguna :D

[人生十四最]
14 Pedoman Hidup Manusia
14 Guidance of Human Life

[1]
最大的敌人是自己
Musuh terutama manusia adalah diri sendiri
Life's greatest enemy is ourself

[2]
最大的失败是自大
Kegagalan terutama manusia adalah kesombongan
Life's greatest failure is arrogant

[3]
最大的无知是欺骗 / 人生最大的欺騙是無智 ?
Kebodohan terutama manusia adalah sifat menipu
Life's greatest ignorance is dupe

[4]
最大的悲哀是嫉妒
Kesedihan terutama manusia adalah rasa iri hati
Life's greatest sorrow is jealousy

[5]
最大的错误是自弃
Kesalahan terutama manusia adalah campak diri
Life's greatest erroneous is self-abandon

[6]
最可佩服的是精进
Sifat manusia yang paling terpuji adalah semangat perjuangan untuk peningkatan
Life's greatest admiration is choice of advancing

[7]
最大的欣慰是布施
Ketentraman dan kedamaian terutama manusia adalah suka berdana dan beramal
Life's greatest gratification is alms

[8]
最大的财富是建康
Harta terutama manusia adalah kesehatan
Life's greatest wealth is healthiness

[9]
最大的礼物是宽恕
Hadiah terutama manusia adalah lapang dada dan mau memaafkan
Life's greatest gift is forgiveness

[10]
最可怜的性情是自卑
Sifat manusia terkasihan adalah rasa rendah diri
Life's greatest pitiable disposotion is self-abased

[11]
最大的罪過自欺欺人
Dosa terutama manusia adalah menipu diri dan orang lain
Life's greatest sin is to deceive oneself

[12]
最大的債務是人情債
Hutang terbesar manusia adalah hutang budi
Life's greatest liabilities is a debt of human sympathy

[13]
最大的欠缺是悲智
Kekurangan terbesar manusia adalah sifat berkeluh kesah dan tidak memiliki kebijaksanaan
Life's greatest imperfection is melancholy wisdom

[14]
最大的破產是絕望
Kehancuran terbesar manusia adalah rasa putus asa
Life's greatest insolvent is despair

Special Thanks to :
)
 
Albert Wu ◄Design by Pocket, BlogBulk Blogger Templates ►